Tik..tok..tik..tok..suara jarum jam membuat setengah kesadaranku menghilang. Aku tak bisa merasakan lagi kram yang mendera perut cekungku ini, aku tak merasakan apa-apa lagi. Bahkan aku tak dapat mengingat hari apa sekarang, kapan terakhir kali aku makan, aaah..aku amat merindukan sinar matahari!!!
“Bu, seperti apa rasanya memiliki seorang Ayah?” Pertanyaan itu melucur datar dari mulut seorang gadis kecil berkepang dua yang tengah duduk di teras rumah berpagar tinggi itu. “Seperti rasa permen lolipop ini ya Bu?” ujarnya lagi. “Kalau memiliki seorang Ibu, rasanya seperti apa?” wajahnya masih saja penasaran berharap mendapat jawaban yang memuaskan. Wanita paruh baya yang menemaninya bermain masih saja terdiam. Mulutnya terkunci, hanya tersirat senyum tipis di atas wajah ayunya. “Hmmm..pasti rasanya seperti saat Ibu membelikan aku boneka ini ya?” tukasnya seraya memeluk erat boneka beruang coklat berukuran besar itu di dadanya.
Tik..tok..tik..tok..aku tak pernah merasa segelap ini. Bukan hanya ruangan ini yang gelap, tapi juga seluruh tubuh dan pikiranku. Perlahan kuraba kedua mataku, mereka masih disana, lengkap, sama sekali tak bergesar ataupun lenyap. Tapi aku semakin merasa gelap dan terkubur di dalamnya…
Hari itu 23 Januari 1995, suasana Panti Asuhan Welas Asih tampak berbeda. Para penghuni menyiapkan sebuah pesta, tidak besar namun cukup hangat. Salah satu dari mereka hari ini akan mendapatkan orangtua angkat, mengawali tahun dengan harapan baru adalah hal yang patut dirayakan. Setiap anak tentu ingin merasakan berada dalam keluarga sesungguhnya, dimana terdapat Ayah dan Ibu di dalamnya. Raenilam Agnyaqanida, gadis kecil berusia 8 tahun yang memiliki rambut ikal kecoklatan, matanya bulat, bibirnya mungil, cantik sekali. Entah orangtua mana yang tega meninggalkan anak seperti itu di depan panti asuhan! Ibu Laras sang pemimpin panti mendekap erat tubuh kecil Nilam. Ia berusaha membisikkan nasehat terakhir sebelum melepas gadis kecilnya menuju kehidupan baru yang sesaat lagi tiba.
Sebuah sedan mewah terlihat berjalan menerobos udara Bandung yang sejuk. Sesaat kemudian mulai memasuki pekarangan panti. Seorang pria gagah keluar dari dalamnya, perlahan ia melepaskan kaca mata hitamnya seraya menghampiri Ibu Laras yang telah menanti di dalam. Pria itu bernama Lionel Cooper, WNA berusia 47 tahun yang bergerak dalam bisnis properti. Ia dan istrinya telah lama berencana mengadopsi seorang anak, namun sayang satu bulan yang lalu istri Lionel meninggal karena kecelakaan. Nmaun hal tersebut tidak membuat Lionel mengurungkan niatnya untuk menjadi seorang Ayah. Nilam amat beruntung, karena mulai hari ini ia akan menjadi seorang anak yang tidak hanya akan dilimpahkan banyak harta tapi juga kasih sayang.
Tik..tok..tik..tok..waktu bergulir mambabi buta, menggerogoti keyakinanku untuk segera keluar dari ruang kelam tak berujung ini. Aku harus sadar!!! Aku harus hidup!!! Aku harus menang!!! Tik..tok..tik..tok..lagi-lagi bunyi itu menamparku, ya..aku harus sadar!!!
Nilam kecil telah enam bulan menempati rumah mewah di bilangan selatan Jakarta. Masih saja ia takut tipa kali membuka mata di pagi hari. Ia takut semua keindahan yang dilihat dan dirasakannya hilang dalam sekejap seiring dengan usainya mimpi indah dalam lelap. Senyumnya mengembang, ia tahu ini bukan mimpi. Lionel memperlakukan Nilam bagaikan seorang putri dan kini terasa amat nyata baginya. Bersekolah di tempat terbaik, makan makanan terbaik, memakai baju buatan toko terbaik, Nilam tak dapat meminta lebih lagi. Hari ini ulang tahunnya, Lionel menyiapkan pesta dengan sederet tamu yang dipastikan membawa kado-kado terbaik.
Di hidupnya yang menginjak tahun ke sembilan, Nilam merasa semakin paham tentang kebahagiaan. Bahwa Lionel adalah hadiah terbaik yang tak pernah dimintanya, namun itu saja tentu tak cukup. Pria yang kini dipanggilnya Daddy bahkan menjanjikan kado istimewa yang akanh diberikannya hari itu. Lionel menggandeng tangan mungil Nilam, saat tamu-tamu telah berlalu keluar dari rumahnya. Langkah mereka terhenti di depan pintu, ruang dimana Lionel menaruh kado istimewa yang tadi dijanjikannya. Nilam memeluk erat Lionel,. “Ini akan menjadi hadiah yang tak akan pernah kau lupakan,” bisik Lionel perlahan.
Tik..tok..tik..tok..lagi-lagi aku disadarkan.. Ayo berpikir!!! Jangan diam saja seperti mayat!!! Kau punya kaki, larilah!!! Kau punya tangan, lambaikanlah!!! Kau punya mulut, teriaklah!!! Jangan diam saja, kau bukan mayat!!!
Si cantik Nilam terlihat kurus, pipinya lebih tirus, matanya sedikit kuyu, waktu membuatnya bertambah tinggi, tak sekecil dulu lagi. Disampingnya terlihat seorang wanita berkacamata yang tengah memasukkan buku ke dalam tas kulit coklat di hadapannya, sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu. Tarikan nafas pabjang menandai berakhirnya sesi private learning bersama Miss Joanna dalam minggu ini. Hari itu Lionel pulang tak selarut biasanya, Nilam tengah membereskan buku dan kertas yang berserakan di atas meja. Ia menggandeng tangan putri kecilnya, Nilam mengikuti langkah Lionel, kepalanya tertunduk.
Tik..tok..tik..tok..suara itu lagi-lagi menyemangatiku!!! Aku menggerakkan tubuhku…ini sangat nyata!!! Ya..aku bisa merasakan kembali kram pada perutku. Aku kelaparan!!! Aku mulai ingat hari apa sekarang, aku tahu mengapa bisa terperangkap disini, dengan sepiring nasi dan lauk basi yang membuatku muntah saat itu juga. Tik..tok..tik..tok..Aku harus bertahan!!!
Headline Harian “Jakarta Kini” Selasa, 19 Desember 2006
“7 Tahun Buron, WNA Pelaku Phedofilia dan Pornografi Anak Tertangkap”
Tik..tok..tik..tok..aku selalu mengira ada yang salah pada diriku, pasti ada yang salah!!! Tik..tok..tik..tok..aku tahui ada yang harus disalahkan!!! Tapi itu bukan aku!!! Tik..tok..tik..tok..aku bangga telah keluar dari ruang tak berujung ini. Aku bangga bisa berlari, melambai, bahkan berteriak!!! Aku bangga banyak jiwa-jiwa tak berdosa lainnya yang tak sempat merasakan betapa gelapnya duniaku.. Betapa palsunya sebuah keindahan.. Aku bangga telah menghapus nama Cooper di belakang nama indah pemberian Ibu Laras. Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..namaku Raenilam Agnyaqanida, usiaku bukan 9 atau 10!!! Aku 20 dan waktu terus berjalan untukku.. Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..
Copy Right: Citra Andinna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar